Tung Desem Waringin: Getol Membangun Peternakan Uang

Sebagai motivator papan atas bertarif US$ 8 ribu sekali tampil di seminar atau pelatihan dengan frekuensi rata-rata 30 kali sebulan, nama Tung Desem Waringin memang tidak asing lagi. Namun, banyak yang tidak tahu bagaimana pria kelahiran Solo, Desember 1967 itu membiakkan duitnya. Ia menganut tiga prinsip dalam membangun peternakan uang. Yaitu, menunda kesenangan, mengalokasikan aset, dan mengalokasikan kesenangan.

Yang dimaksud peternakan uang oleh Tung: investasi yang hasilnya cukup untuk membiayai gaya hidup kita. Bentuknya berupa bisnis yang menghasilkan, dengan atau tanpa kita. Juga, royalti atas hak cipta, rumah yang disewakan, saham yang menghasilkan dividen, yield reksa dana atau obligasi, bunga deposito, rumah walet, dan sebagainya.

Untuk segera mewujudkan peternakan uang itu, berapa pun penghasilannya, ia disiplin menyisihkan minimal 10% untuk investasi aman. Lalu, minimum 20% untuk cadangan 5-6 bulan biaya hidup, dan maksimal 70% boleh dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Nah, berangkat dari perencanaan keuangan itu, Tung memilih beberapa instrumen investasi untuk diversifikasi dan menyebar risiko: 50% di pasar modal dalam bentuk saham, obligasi plus reksa dana; lalu 30% properti; 10% sektor riil; serta 10% emas.

Kiprah Tung sebagai investor pasar modal dimulai tahun 1997 manakala ia coba-coba bermain saham. Setelah membaca buku tentang saham karya Paul Devy, matanya terbuka untuk melirik saham. Celakanya, karena masih pemula, ia belum paham betul tentang teori investasi saham, istilah-istilahnya, dan liku-likunya. Bisa ditebak, saat musim saham berguguran akibat diterpa badai krismon 1998, saham-saham pilihannya pun rontok. Ia mencontohkan: saham BNI ia beli di harga Rp 500, terus anjlok menjadi di bawah Rp 100. “Kesalahannya saat itu karena saya melawan tren. Artinya, ketika harga saham trennya jatuh, saya justru ambil posisi beli. Eh, nggak tahunya harga sahamnya terus melorot,” ujarnya mengenang dengan nada pilu.

Toh, ia tidak kapok. Belanja saham terus dilakukan. Bahkan, Agustus 2006 makin besar dana yang digelontorkan ke saham. Mengapa? “Saya telah belajar dari guru-guru terbaik. Selain itu, sejak Agustus tahun lalu tren IHSG (indeks harga saham gabungan) confirm untuk balik. Tapi, prediksi saya ini bisa salah juga dan saya sudah siap minggat dari bursa jika kondisi terburuk akan terjadi,” ujar Tung yang memprihatinkan banyak investor saham yang gampang masuk bursa, tapi tidak tahu kapan keluar.

Strategi investasinya bermain saham dibedakan dua: jangka pendek dan panjang. Jika sudah mengantongi capital gain 10%, ia cepat-cepat cabut. “Tapi saya jarang main jangka pendek,” katanya. Untuk jangka panjang, rata-rata horison investasinya di atas satu tahun. Keuntungannya, ia mendapatkan gain dari kenaikan harga saham dan dividen.

Saham-saham pilihan Tung tidak melulu blue chips. Ia lebih banyak membeli saham sektor infrastruktur. Meski demikian, saham-saham itu tidak asal comot. Ia mempertimbangkan faktor fundamental perusahaan, analisis industri, kondisi makroekonomi yang memengaruhinya, laba emiten (minimal dalam tiga tahun naik 25%), gaya manajemen, perkembangan aset, dan lainnya. ”Jangan terjebak hanya beli saham di harga murah jika prospek ke depannya masih suram. Saya tidak pernah masuk ke harga saham saat titik terendah. Tapi, begitu tren harga saham confirm grafiknya naik, itulah momen yang tepat,” ujar Tung menyarankan.

Sementara itu, di keranjang reksa dana, investasinya dipecah: 16% reksa dana pendapatan tetap, 59% reksa dana saham, dan 25% reksa dana campuran. Kiatnya dalam memilih reksa dana: melihat siapa fund manager-nya dan bagaimana rekam jejaknya. Imbal hasil reksa dananya bervariasi. Misalnya, reksa dana saham sekitar 68%, campuran di bawah 50%, dan pendapatan tetap 10%-11%. Untuk obligasi, Tung tak mau ketinggalan karena ia juga membeli ORI di harga 92% beberapa waktu lalu. “Saya belum masuk ke options karena dituntut aktif terlibat langsung. Padahal, saya belum sempat,” kata sarjana hukum dari Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo itu.

Setelah pasar modal, sasaran investasi Tung berikutnya adalah properti. Ia memiliki 11 unit aset properti, baik di dalam maupun luar negeri. Untuk properti di Indonesia ada rumah, ruko, dan resor di beberapa lokasi. Antara lain, satu unit rumah di Taman Giri Loka, Bumi Serpong Damai. Rumah ini disewakan dengan return sekitar 10% per tahun. Lalu, sebuah rumah di Amatapura, Tangerang. Juga, ruko di Gading Serpong dibeli tahun 2000 seharga Rp 235 juta dan kini naik menjadi Rp 600-700 juta setelah di kawasan tersebut dibangun mal.

Tung mengaku rata-rata aset propertinya tidak ada yang dijual. Hanya satu kejadian saja: saat belum punya banyak duit, ia menjual tanahnya di Malang, Jawa Timur. “Saya ini investor, bukan pedagang. Jadi, properti yang saya beli diternakin semua,” ujar ayah tiga anak ini. Syarat properti yang layak dibeli versi Tung: harganya di bawah pasar atau nilai jual obyek pajak (NJOP); penjualnya kepepet; dan bila kondisinya sudah tersewa, minimal return 10%. “Sekarang saya juga akan masuk ke investasi integrated resort di Bangka Belitung dan Tanjung Lesung,” kata suami Suryani Untoro ini.

Selain resor di dalam negeri, Tung juga berinvestasi di resor mancanegara. Tepatnya di La Paz, Meksiko, seluas 500 hektare dengan sistem integrated resort pula. Di sana ia bermitra dengan Michael Hammer (sutradara film Shakespeare in Love), Richard Tan, dan Oliver Tam (Australia). “Mereka saya kenal dari ikut acara-acara seminar di luar negeri,” tuturnya. Beberapa vila di kawasan resor itu akan dijual lagi ke pengelola resor butik. Berapa return-nya? “Unlimited, karena modalnya nol,” ujar Tung sembari terbahak penuh arti.

Tak puas hanya dengan resor, Tung pun merambah apartemen di negeri orang. Ia punya satu unit apartemen The Match di Singapura yang dibelinya pada Mei 2006. Dalam setahun, di atas kertas untung Sin$ 1 juta kalau dijual cepat, US$ 1,2 juta bila dijual lambat. Padahal, modalnya hanya Sin$ 280 ribu. Bagaimana mungkin? “Begini,” cerita Tung, “sebetulnya modal awal ia beli hanya Sin$ 14 ribu, tapi dalam dua minggu sudah ditawar orang Sin$ 80 ribu, lalu ada juga yang menawar Sin$ 140 ribu, dan menjelang serah-terima apartemen ada yang menawar Sin$ 280 ribu. Hebatnya, waktu serah-terima harganya langsung melejit Sin$ 1 juta dan setelah Formula 1 akan have fun bermalam di Singapura, harga apartemen itu sontak meledak jadi Sin$ 1,2 juta. “Investasi apartemen ini sangat menguntungkan karena ibaratnya saya membangun bisnis tanpa modal,” ungkapnya. Wajarlah, karena apartemen itu dibelinya secara kredit di UOB Singapore dengan cicilan Sin$ 3.500/bulan, tapi langsung disewa orang Jepang dengan tarif Sin$ 8.000/bulan. Itu artinya cicilan yang seharusnya menjadi tanggungannya, dibayari orang lain, Tung masih mendapat surplus Sin$ 4.500 tiap bulan.

Bentuk investasi Tung berikutnya sektor riil dengan porsi 10%. “Untuk merintis usaha baru, saya punya bisnis model. Perusahaan itu harus punya nilai tambah dan rata-rata nilai investasi saya di bawah Rp 1 miliar,” katanya tandas. Maka, lahirlah beberapa perusahaan yang cukup unik, baik dibesut sendiri maupun bermitra. Mula-mula usaha toko buku Toga Mas di Yogya berdiri pada 1999. Ia bermitra dengan dua orang yang total investasinya mencapai Rp 600 juta. “Tapi, awal-awalnya kami juga pernah rugi Rp 176 juta,” ungkap lelaki yang gemar mengucapkan kata “dahsyat” itu.

Selain Toga Mas, Tung juga melirik bisnis Edugame pada 2005. Tahun lalu CD Edugame yang dipasarkan di jaringan Gramedia itu terjual 9 juta keping. Materi CD-nya tentang belajar bahasa Mandarin, bahasa Inggris, peta, matematika, dan sebagainya. Di sini ia bermitra dengan Limat Kosim, pemilik bengkel Sehat di Medan. Kini Edugame telah go international, buka di Singapura pada April 2007.

Tung juga berinvestasi di pabrik motor merek Torindo. Perusahaan ini berdiri pada 2006 dengan memproduksi motor seharga Rp 6-9 juta/unit. Di produk motor yang sudah terjual 700 unit ini, Tung bermitra dengan satu orang.

Tak hanya itu, ia pun merintis lembaga motivasi TDW Your Breakthrough Partner, bekerja sama dengan Success Resources, perusahaan event organizer di Singapura yang pada Maret 2008 sahamnya listing di Nasdaq.

Selain properti sebagai investasi, Tung juga berbisnis properti. Bersama mitranya, ia menggarap proyek perumahan untuk anggota TNI jenis BTN tipe 36 yang kuat, antipeluru, dan berharga miring sebanyak 1.000 unit. Proyek yang sudah jalan di Mekarsari, Jawa Barat.

Tidak tanggung-tanggung, pada 2007 Tung menggelontorkan dana investasi di tiga perusahaan sekaligus. Pertama, perusahaan tabung gas (per Juli lalu, bersama tiga relasi). Pabriknya terletak di Tangerang. Kedua, bisnis keuangan mikro BPR bernama Innertalk dengan seorang mitra. Cabangnya baru ada satu di Tangerang. Ketiga, produksi batik tulis tiga menit dengan temuan teknologi canggih. Ia merangkul Hermawan -- penemu teknologinya -- dan pemilik Sritex (Solo). Merek batiknya, Duplex. Pabriknya berlokasi di Cikarang. Perusahaan berorientasi ekspor ini rencananya akan menggandeng sejumlah desainer kakap dunia. Sebut saja, Yves Saint Laurent, Versace, dan Gucci.
Ke depan, Tung hendak meningkatkan alokasi untuk investasi properti. “Untuk saham akan dikurangi,” tutur eksekutif yang berencana pensiun produktif pada usia 80-90 tahun ini.

BOKS 1:
Ke Mana Tung Membiakkan Uang
  • 50% di instrumen pasar modal (saham, obligasi, dan reksa dana)
  • 30% di properti
  • 10% investasi di sektor riil
  • 10% dibelikan emas

BOKS 2:
Gaya Main Saham ala Tung
Sebagian besar untuk investasi jangka panjang (lebih dari setahun).
Untuk investasi saham jangka pendek, jika sudah untung 10%, ia cepat-cepat cabut dari bursa saham.
Lebih banyak memainkan saham infrastruktur.
Yang dipertimbangkan: fundamental perusahaan, kondisi industri, kondisi makroekonomi, laba emiten (dalam tiga tahun naik 25%), dan gaya menajemen perusahaan.
Tidak terjebak harga murah.

BOKS 3:
9 Cara Tung Berburu Properti
Tung punya trik agar mendapatkan properti dengan harga rendah di bawah NJOP. Bagaimana caranya? Simak 9 tip berikut ini:
Pasang iklan yang menyebutkan bahwa kita adalah investor properti dengan dana unlimited (kredit bank).
Pilah-pilih iklan properti. Misalnya, jika ada tawaran properti baru yang luks sebaiknya dihindari karena harganya pasti selangit.
Titip ke agen properti jika ada peluang investasi menarik.
Walking around dalam jarak dua kilometer dari tempat tinggal Anda untuk mencari peluang investasi properti.
Titip ke bank, karena biasanya bank punya data nasabah yang punya kasus kredit, sehingga aset propertinya terancam disita atau dilelang.
Titip ke notaris, karena mereka punya info peluang properti dari klien-klien yang ditangani.
Titip ke pengadilan yang biasanya sering menggelar lelang properti.
Titip ke teman-teman kalau ada kesempatan investasi.
Titip ke pengacara jika ada kasus properti yang menarik untuk dijajaki transaksinya.

Comments